babies day out

March 17th, 2007 by bebekgorenk

so, whats up for long weekend, ndre?

what long weekend?

skrg si lagi jenguk temen yg baru ngelahirin..

gimana anaknya? ce or co? Lucu ga? Kl br lahir biasanya masih jelek, tunggu 2 bln, pasti lucu bgt…

co dan baru aja pup. =b

Hihihi… Dah nyoba gendong blm? Pasti ga brani d…

ga berani, nanti dicakar emaknya… =b

kqkqkq…

4 ekor anak kucing dan 1 anak orang yg lutu-lutu…

Ih… Br aja gw mau nanya…

org apa kucing yang nglahirin…

terjawab sudah..

Nglahirin brg? Lutuna… Lucuan anak org apa anak kucing ndre?

jelas kucing lah! =)

0316_211532_3

20070316142819_1

jika dokter hewan jadi gubernur

February 25th, 2007 by bebekgorenk

hari ini kantor kami mengadakan acara serah terima rumah bantuan bagi korban tsunami, beberapa pembesar seperti dari donor, walikota, menteri KLH dan gubernur aceh diundang utk memberikan sambutan.

ada kejadian menarik pada waktu kedatangan gubernur aceh yang baru Drh. Irwandi Yusuf MSc. Pak Marco (Kusumawijaya) selaku pembawa acara, mengumumkan bahwa mobil pak gubernur baru saja memasuki lokasi acara, iring-iringan 5 mobil land cruiser memasuki jalan masuk tempat acara berlangsung, beberapa polisi berjaga2, panitia segera nyambut iring2an mobil gubernur itu, mereka menghampir mobil yg ada di tengah iring2an, karena biasanya protokoler iring2an kendaraan pejabat penting di tengah, tapi ternyata Pak Irwandi ada di mobil paling depan dan dia turun dari pintu pengemudi! dan di sebelahnya turun juga menteri HAM dan hukum, Pak Hamid Awaluddin. kontan semua orang kecele, seorang gubernur masih mau nyetir mobilnya sendiri ke acara resmi orang2 tamu luar / bule yang enggak kenal muka pak irwandi mungkin malah akan mengira dia sebagai supir biasa.

Pak Hamid dalam sambutannya sempet cerita juga bahwa bahwa dia baru saja dateng dari bandara, dan Pak Irwandi sendiri yang menjemputnya, dia juga sempet mengira pak gubernur sebagai staf kementrian yang menjemputnya.  dan dari bandara, semua polisi di sepanjang jalan memberi hormat pada mobil yang berada di tengah iring-iringan, padahal gubernur berada di mobil paling depan, menyetir mobilnya sendiri.

bila dibandingkan dengan kedatangan pejabat sebelumnya, wakil walikota banda aceh yang heboh dengan iring2an pengawalan ketat oleh polisi, kedatangan sang gubernur justru sederhana sekali.

kalo saya waktu pilkada kemarin boleh milih, jelas saya akan pilih Pak Irwandi.

another love story…

February 11th, 2007 by bebekgorenk

please click here

another romantic comedy story from the creator of "Jomblo"

jakarta underwater

February 6th, 2007 by bebekgorenk

barusan liat di tivi, ada aksi demo di balai kota

ratusan mahasiswa (keliatan dari jaket warna-warninya) berdemo nuntut sutiyoso mundur karena gak bisa ngatasin banjir yang lagi terjadi.

duh, haree geneeeh… malah demo

ya mbok daripada buat demo, energinya disalurkan ke kegiatan yang lebih bermanfaat, bikin dapur umum atau posko buat nyalurin bantuan ke pengungsi gitu lho…

sampe saat ini gw blm liat (atau mungkin sudah ada tapi belum kena sorot pemberitaan) aksi nyata mahasiswa buat bantu korban banjir. (selain beberapa tim mapala yg sudah bantu evakuasi)

dan sebagai mahasiswa seharusnya sadar bahwa perubahan gak akan terjadi kalo hanya dengan demo saja
kita punya senjata bukan hanya orasi dan aksi massa saja, tapi kita juga punya ilmu dari kuliah bertahun-tahun
pakai ilmu anda!

udah bukan saatnya lagi kita teriak2 menyalahkan gubernur/ pejabat yg dianggep gak becus (bahkan ada yang seakan2 menyalahkan tuhan dengan bilang : “banjir ini fenomena alam, kita gak bisa apa2″)
tapi kitanya gak ngasi solusi apa pun
…karena
kritik tanpa solusi cuma jadi nyampah

cukup sudah kritik dan celaannya

ayo bergerak!

Banjir

-bekas mahasiswa yang kebanjiran-

tuhan 9 cm

January 6th, 2007 by bebekgorenk

dapet dr blognya harry sufehmi

semustinya yang kayak gini ditempel di bawah tanda larangan merokok

atau jadi gantinya peringatan pemerintah yg ada di iklan rokok, cuman bakal jadi panjang banget pasti iklannya ;b

peringatan : banyak kata-kata yg nampol. jangan baca kalo gampang tersinggung

tuhan sembilan senti
Oleh: taufiq ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa
ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi
orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara- perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-
jannatu- na’im sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa
bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang
duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta
diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat bagi
orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala,
tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah
meter tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-
tahun menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau
mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika
dua orang bergumul saling
menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.

Duduk kita disebelah orang yang dengan
cueknya mengepulkan asap rokok di
kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.

Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur
pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup
sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,
Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola mengemis-ngemis
mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat dengan
tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-
jannatu- na’im sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala,
tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan
sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.

Di antara jari telunjuk dan jari
tengah mereka terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela
ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka memegang
rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan
tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda yang
terbanyak kelompok ashabul yamiin dan
yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di
ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi
mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.

Laa taqtuluu anfusakum.
Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada
sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut
mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-
tuhan kecil yang kepalanya berapi
itu, yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.

Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di
Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok lebih dahsyat
ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat
berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

indomi pake telor

January 1st, 2007 by bebekgorenk

yup, itu menu taun baru gw setahun kemaren

nah, untuk tahun baru kali ini ada peningkatan dikit;

indomi telor + sosis + segelas milo anget = top dah!

abis itu nonton film sampe ketiduran di depan tv

…zzz

tahun baru di sini bener2 sepi, toko2, warung2 malah pada tutup semua. setelah diselidiki lebih lanjut ternyata karena tahun baru kali ini bebarengan sama idul adha.

sama sekali enggak ada acara rame2 kayak di bundaran HI-nya jakarta, orang niup terompet aja dilarang, apalagi petasan.

pantesan para orang asing (baik asing yg bule beneran maupun yg dari jawa) udah pada ngungsi ke luar kota sejak H-4. ada yg kabur ke jkt, medan, atau paling dekat ke sabang

bener2 tahun baru yg ideal untuk ber-kontemplasi… sunyi…

kisah yu timah

December 27th, 2006 by bebekgorenk

Belum Haji Sudah Mabrur
Oleh : Ahmad Tohari

Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami.
Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang
kini sudah berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah
uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta. Yu
Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai
tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status
tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri.

Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah.
Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah
yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah
Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Dulu setelah remaja
Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta . Namun,
seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di
pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung kami. Para
tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya
yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang
bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.

Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan
nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di
pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah
bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya.
Setelah emaknya meninggal Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia
biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini zaman apa. Anak itu harus cari
makan. Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga dan
lagi-lagi terdampar di Jakarta . Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah
kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan
berjualan nasi bungkus. Untung di kampung kami ada pesantren kecil. Para
santrinya adalah anak-anak petani yang biasa makan nasi seperti yang
dijual Yu Timah.

Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau
bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa
menabung di bank perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut jadi
pengurus. Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu
sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10
ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa
setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan sejak itu saya melihat Yu Timah
memakai cincin emas. Yah, emas. Untuk orang seperti Yu Timah, setitik
emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu
Timah adalah Rp 650 ribu.

Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya
bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah.
”Pak, saya mau mengambil tabungan,” kata Yu Timah dengan suaranya yang
kecil.
”O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah
tutup.
Bagaimana bila Senin?”
”Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.”
”Mau ambil berapa?” tanya saya.
”Enam ratus ribu, Pak.”
”Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?”

Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu.
”Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi
dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.”

Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi
kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan
tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang
tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh
keinginan Yu Timah membeli kambing kurban.

”Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus
ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan
wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi,
apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing
kurban?”

”Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama
ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi
pemberi daging kurban.”

”Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.”
Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta
diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.

Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri. Kapankah Yu Timah
mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban
yang ditinggalkan oleh Kanjeng Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat
awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela
mengurbankan hampir seluruh hartanya? Pertanyaan ini muncul karena
umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak
orangnya. Mungkin saya juga begitu. Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu
yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah
jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak
kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu
belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan
daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati
daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu
mabrur sebelum kamu naik haji.

Gusti Allah tidak “ndeso”

December 25th, 2006 by bebekgorenk

Malang, 24 Desember 2006

Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun. "Cak Nun," kata sang penanya, "misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?" Cak Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang kecelakaan." "Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?" kejar si penanya. "Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu," jawab Cak Nun. "Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak, " katanya lagi. "Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi." Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang. Kata Tuhan: kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu. Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu. Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.

Seraya bertanya balik, Emha berujar, "Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini. Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara. Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan. Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?" Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran. Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama. Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.

Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama. Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial.

Orang beragama adalah orangyang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh’afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.

Ekstrinsik Vs Intrinsik

Dalam sebuah hadis diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar berita perihal seorang yang shalat di malam hari dan puasa di siang hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya. Nabi Muhammad SAW menjawab singkat, "Ia di neraka." Hadis ini memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum cukup. Ibadah ritual mesti dibarengi ibadah sosial. Pelaksanaan ibadah ritual yang tulus harus melahirkan kepedulian pada lingkungan sosial. Hadis di atas juga ingin mengatakan, agama jangan dipakai sebagai tameng memperoleh kedudukan dan citra baik di hadapan orang lain.

Hal ini sejalan dengan definisi keberagamaan dari Gordon W Allport. Allport, psikolog, membagi dua macam cara beragama: ekstrinsik dan intrinsik. Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan. Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh status darinya. Ia puasa, misa, kebaktian, atau membaca kitab suci, bukan untuk meraih keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain menghargai dirinya. Dia beragama demi status dan harga diri. Ajaran agama tidak menghujam ke dalam dirinya. Yang kedua, yang intrinsik, adalah cara beragama yang memasukkan nilai-nilai agama ke dalam dirinya. Nilai dan ajaran agama terhujam jauh ke dalam jiwa penganutnya. Adanya internalisasi nilai spiritual keagamaan.

Ibadah ritual bukan hanya praktik tanpa makna. Semua ibadah itu memiliki pengaruh dalam sikapnya sehari-hari. Baginya, agama adalah penghayatan batin kepada Tuhan. Cara beragama yang intrinsiklah yang mampu menciptakan lingkungan yang bersih dan penuh kasih sayang. Keberagamaan ekstrinsik, cara beragama yang tidak tulus, melahirkan egoisme. Egoisme bertanggungjawab atas kegagalan manusia mencari kebahagiaan, kata Leo Tolstoy. Kebahagiaan tidak terletak pada kesenangan diri sendiri. Kebahagiaan terletak pada kebersamaan. Sebaliknya, cara beragama yang intrinsik menciptakan kebersamaan. Karena itu, menciptakan kebahagiaan dalam diri penganutnya dan lingkungan sosialnya. Ada penghayatan terhadap pelaksanaan ritual-ritual agama. Cara beragama yang ekstrinsik menjadikan agama sebagai alat politis dan ekonomis. Sebuah sikap beragama yang memunculkan sikap hipokrit; kemunafikan. Syaikh Al Ghazali dan Sayid Quthb pernah berkata, kita ribut tentang bid’ah dalam shalat dan haji, tetapi dengan tenang melakukan bid’ah dalam urusan ekonomi dan politik. Kita puasa tetapi dengan tenang melakukan korupsi. Juga kekerasan, pencurian, dan penindasan.

Indonesia , sebuah negeri yang katanya agamis, merupakan negara penuh pertikaian. Majalah Newsweek edisi 9 Juli 2001 mencatat, Indonesia dengan 17.000 pulau ini menyimpan 1.000 titik api yang sewaktu-waktu siap menyala. Bila tidak dikelola, dengan mudah beralih menjadi bentuk kekerasan yang memakan korban. Peringatan Newsweek lima tahun lalu itu, rupanya mulai memperlihatkan kebenaran. Poso, Maluku, Papua Barat, Aceh menjadi contohnya. Ironis. Jalaluddin Rakhmat, dalam Islam Alternatif , menulis betapa banyak umat Islam disibukkan dengan urusan ibadah mahdhah (ritual), tetapi mengabaikan kemiskinan, kebodohan, penyakit, kelaparan, kesengsaraan, dan kesulitan hidup yang diderita saudara-saudara mereka. Betapa banyak orang kaya Islam yang dengan khusuk meratakan dahinya di atas sajadah, sementara di sekitarnya tubuh-tubuh layu digerogoti penyakit dan kekurangan gizi. Kita kerap melihat jutaan uang dihabiskan untuk upacara-upacara keagamaan, di saat ribuan anak di sudut-sudut negeri ini tidak dapat melanjutkan sekolah. Jutaan uang dihamburkan untuk membangun rumah ibadah yang megah, di saat ribuan orang tua masih harus menanggung beban mencari sesuap nasi. Jutaan uang dipakai untuk naik haji berulang kali, di saat ribuan orang sakit menggelepar menunggu maut karena tidak dapat membayar biaya rumah sakit. Secara ekstrinsik mereka beragama, tetapi secara intrinsik tidak beragama.

cemonk de chipmunk

November 26th, 2006 by bebekgorenk

kemarin posko pulo nasi punya mainan baru.
seekor tupai!
masih kecil sih kayaknya, makanya dia pasrah aja waktu berpindah tangan dari pak wahab (org kampung yg nemuin tupai itu) ke tangan Isur (orang kantor yg jadi bapak angkatnya skrg)
kemarin tupai itu diem aja seharian, masih trauma kayaknya (begitulah biasanya kalo jadi korban penculikan)
hari ini udah lebih idup dikit, setelah dikasi apel ama pisang.
mulai berani jalan2 di posko, nyusup2 ke kantong, lipatan baju, kayak tikus.

Cemonk

ouw lutuna…. ^_^

:to give #2

November 12th, 2006 by bebekgorenk

kejadiannya masih di tempat yang sama.
dalam labi-labi (angkotnya aceh) yg lagi ngetem di simpang lima (bundaran HI-nya aceh)

penumpangnya cuma empat orang, seorang cewek berjilbab di sebelah gw dan seorang pengemis buta sama seorang pemuda di depan gw
kayaknya sih pengemis buta yang sama, soalnya gw bisa kenalin dari ember kecilnya yg di kalungin di lehernya

gak lama kemudian si cewek itu ngeluarin hpnya, sebuah N 7610 (maksudnya sih gak mau nyebut merk, tapi ketauan ya? hehe) dan mulai nelpon
si cewek minta seseorang utk jemput dia, rupanya dia udah gak sabaran soalnya labi-labi ini emang ngetem udah cukup lama di simpang lima

nah akhirnya, labi2 ini mulai jalan, karena udah hampir magrib si supir mau gak mau musti jalan walaupun gak ada penumpang yg naek lagi (di aceh semua kegiatan berhenti pas magrib)

nah saat itulah gw liat satu lagi keajaiban;
si pemuda (yg rupanya temannya si pengemis buta) ngomong sesuatu ke si pengemis, dan si pengemis ngeluarin sesuatu dari kantong celananya, sebuah N7610 juga!?!?
dan lalu si pemuda berpura-pura sms, padahal maksudnya mau moto cewek di depannya (yang kebetulan emang lumayan manis) lalu mengembalikannya lagi ke si pengemis

nah, bengong lagi deh gw. (dan begitu juga si cewek itu, kayaknya dia juga cukup shocked)
gw berharap beberapa saat kemudian ada kru tv dari reality show yg suka ngerjain itu (entah apa namanya, lupa) untuk tiba2 masuk ke labi-labi dan bilang sesuatu kayak "selamat anda telah dikerjain!"

tapi ternyata enggak.
itu beneran, si pengemis buta bener2 punya N7610

hilang sudah niat gw utk memberi sore itu